Kamis, 13 Oktober 2011

pempek Palembang

Bahan :
  •     600 gr ikan tenggiri
  •     300 gr sagu putih
  •     3/4 gelas air
  •     Garam secukupnya
Cara membuat :
  • Keluarkan dan bersihkan ikan dari sisik dan isi perutnya.
  • Belah menjadi 2 bagian dan bersihkan juga tulang tengahnya. Bersihkan juga tulang ikan yang kecil kecil sambil dikikis dengan garpu
  • Setelah kulit ikan bersih, haluskan daging ikan,
  • Campurkan air, garam dan daging halus hingga rata
  •  Masukkan tepung sagu dan campurkan secukupnya. Ketika mengaduk tepung sagu, masukkan sedikit demi sedikit dan secukupnya karena jika kebanyakan empek empek yang dihasilkan akan melar dan keras.
  •  Bentuk adonan seperti bola kemudian kukus dalam jumlah air yang banyak
  •  Setelah itu goreng hinga berwarna kecoklatan.
  •  Dalam penyajian dapat Anda tambahkan cuka dan mie soun atau mie kuning



Rabu, 07 September 2011

Lebaran pertama

Ya! Ini adalah kali pertama gue NGGAK LEBARAN DAN PUASA DI RUMAH bareng mama dan adek-adek gue! Kenapa? Karena kampus cuma ngasih libur dua minggu selama puasa dan lebaran. Gila, perjalanan dari Surabaya-Jayapura PP aja makan setengah hari (FYI, Surabaya-Jayapura kurang lebih  6jam via airline), waktu liburan segitu mana cukup?! Tahun kemaren aja kampus bisa ngasih libur sebulan, baca : lagi pembangunan kampus gede-gedean.

Okelah, mungkin gue terlalu lebay. Sebenarnya, tahun ini emang gue nggak ada rencana pulang untuk libur lebaran. Acara keluarga di Solo, laptop yang baru dibeliin smester ini, dan waktu yang nggak cuma dua minggu adalah alasan kenapa gue nggak tega untuk minta ongkos pulang yang PP-nya bisa habis 3-5 jutaan.  Alhasil, hampir tiga minggu puasa tahun ini gue habisin di asrama kampus, dan lebaran di rumah nenek gue di Solo.


Jangan tanya rasanya kayak gimana, udah pengen nangis tiap hari  aja pokoknya. Ngeliat tetangga pada sungkeman sama orangtuanya,makan masakan mamanya.... 'brebes mili'. Bayangin, terakhir kali gue pulang ke rumah itu waktu lebaran tahun lalu, kalau tahun ini gue nggak pulang, berarti hampir genap setahun gue nggak ngeliat mama dan adek-adek gue. Apalagi kalau OJT(On the Job Training a.k.a PKL) gue jadi smester VI, bisa di pastiin tahun depannya lagi gue nggak bakalan lebaran di rumah (lagi)! God, miris banget nasib gue. Untung-untung kalau bisa dapat lokasi OJT di Jayapura, jadi gue bisa ngehabisin waktu tiga bulan di rumah.

Tapi, nggak ada sesuatu terjadi tanpa keuntungan dibaliknya, bahkan yang paling buruk sekalipun. Dan setelah gue pikir-pikir, keuntungan lebaran di rumah nenek gue jauh lebih besar daripada lebaran di rumah sendiri. 
  • Pertama, duit nyokap nggak habis buat ongkos gue pulang balik, jadi gue mungkin bisa minta setengahnya untuk uang jajan
  • Kedua, angpao dari keluarga dan kolega nyokap disini jauh lebih banyak daripada angpao yang bisa gue kumpulin dari keluarga di Jayapura, secara, keluarga besar nyokap banyak banget yang masih netap di Solo 

Minggu, 24 Juli 2011

mereka yang sabar dan yang tidak sabar hanya dibedakan oleh satu hal, yaitu program atau kata-kata yang tertanam di kepalanya


Beberapa hari yang lalu saya membaca buku Happiness Inside-nya Gobind Vashdev. Rekomendasi seorang teman dan label ‘Best Seller’ yang ada di covernya membuat saya -yang paling males baca buku selain majalah- jadi tertarik untuk mebaca buku tersebut. Padahal awalnya saya pikir buku motifasi seperti itu isinya ya bakalan gitu-gitu aja.
Setelah membaca beberapa bagian, eh, saya malah jadi keterusan. Bahasanya yang simple, sederhana serta pembahasan yang sederhana dan benar-benar terjadi disekeliling kita, membuat buku ini jadi sangat menarik untuk saya baca sampai akhir halaman.
Ada satu pembahasan yang sangat menarik dan kayaknya ‘saya banget’, yaitu tentang kesabaran. Di pembahasan itu, Pak Gobind menuliskan kalau ‘mereka yang sabar dan yang tidak sabar hanya dibedakan oleh satu hal, yaitu program atau kata-kata yang tertanam di kepalanya’. Kata-kata itu sangat simple sekali, tapi bisa punya efek yang luar biasa kalau bisa di aplikasikan.
Banyak orang yang mengatakan kalau sabar adalah sifat bawaan sejak lahir, atau jika seseorang sudah mulai tumbuh dewasa atau tua. Tapi sebenarnya sabar bisa dipelajari hanya dengan mengganti program yang ada di pikiran kita, karena program yang kita tanamkan di kepala kita lah yang mengakibatkan kita bereaksi atau tidak.
Sebagai contoh, misalnya ada orang yang entah sengaja atau tidak sengaja, lewat dan meludah persis di depan kaki kita. Bagaiman reaksi kita? Kalau kita adalah orang yang dikatakan tidak sabar, pasti kata-kata dalam otak kita adalah ‘kalau ada orang yang meludah di depan saya, itu artinya sama dengan menghina saya’, dan mungkin  bisa terjadi pertengkaran  setelah itu. Bisa saja kata-kata itu secara tidak sadar  telah terprogram dalam otak kita. Tapi kalau kita bisa dengan sadar mengganti program tersebut dengan kata-kata ‘ ludah adalah ludah, tidak mempunyai arti apa-apa’, maka tidak akan terjadi apa-apa dan beberapa waktu kemudian kita sudah melupakan hal tersebut.
‘Sedikit perbedaan dalam program di kepala kita dapat membuat perbedaan tindakan yang sangat signifikan, yang mungkin sekali berpengaruh dalam hidup ini. Bahkan nasib kita pun bisa di tentukan dari sini’.
Bayangkan, dengan mengganti sedikit program saja, kita sudah bisa mengurangi efek negative yang akan kita timbulkan, atau yang akan terjadi pada diri kita. Energi kita pun tidak akan berkurang untuk memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Walaupun memang tidak akan semudah yang kita pikirkan, tapi kita bisa melatihnya dengan mulai mengaplikasikannya pada hal-hal kecil terlebih dahulu.  ‘Sama seperti otot yang menguat karena dialatih, otak kita pun perlu dilatih untuk menjadi kuat’.

Jumat, 15 Juli 2011

save our earth

Apa yang sudah kita lakukan untuk melindungi bumi kita yang semakin tua ini? Jangan hanya melihat dan mendengarkan sekilas saja slogan diatas. Hal-hal kecil yang bisa kita lakukan dalam menyelamatkan lingkungan bisa saja sangat berpengaruh pada bumi. Saya sudah mulai membiasakan hal- hal kecil untuk itu.  Anda juga bisa saja melakukannya dan menularkan kepada teman- teman anda.
  • Membuang sampah pada tempatnya.
  •  Mengurangi pemakaian tissue dan menggantinya dengan saputangan. Bayangkan kalau satu bungkus dibutuhkan berapa kilo kayu, yang sumber utamanya dari hutan kita. Jika jutaan orang menggunakan kertas tissue sebungkus setiap orang setiap harinya, maka berapa hektar hutan yang harus dibabat setiap harinya ? Itu baru bahan bakunya, belum melihat prosesnya. Jika melihat proses bleachingnya maka dibutuhkan puluhan bahkan ratusan liter chlor untuk memutihkan kertas lap, dan itu semua masuk ke sungai-sungai, sementara chlor yang terkandung dalam tissue juga nantinya masuk ke alam juga.
  • Berbelanja tanpa meminta tas plastik.
  • Lebih baik membawa botol minum saat bepergian daripada membeli air minum kemasan
  • Mengurangi membeli barang dengan kemasan Styrofoam. Bagi kesehatan, penggunaan styrofoam dapat menimbulkan berbagai penyakit, termasuk kanker, karena mengandung benzene, salah satu bahan karsinogenik ( bahan yang dapat memicu terbentuknya sel kanker ). Sedangkan bagi lingkungan, Styrofoam sangat mencemari lingkungan karena dibutuhkan waktu beribu tahun untuk mengurainya.
  • Menghemat listrik dengan mengurangi pemakaian AC, mematikan lampu-lampu pada siang hari, dan tidak lupa untuk mematikan semua peralatan listrik sebelum bepergian.
  • Mengurangi membeli kertas refill binder dan menggantinya dengan kertas-kertas dari buku tulis lama yang tidak terpakai. Bisa dari buku-buku tulis bekas semasa SMA, atau buku tulis adik yang kalau tiap naik kelas pasti minta ganti buku tulis baru. Nah, pasti di bagian belakang buku tulis tersebut banyak bagian kosong yang belum tercoret-coret. Kita bisa menjadikannya kertas untuk mengisi binder dengan membolongi pinggiran kertas tersebut menggunakan pembolong kertas.
  • Memanfaatkan kertas koran bekas untuk membersihkan kaca jendela, dll, karena kertas koran tidak banyak mengandung lem seperti kertas lain, jadi mampu menyerap air dengan baik dan mudah kering. Selain itu, selapis tinta akan tertinggal di permukaan kaca sehingga kaca tampak mengilap.
Mungkin awalnya memang agak susah untuk dijalani, tapi kita bisa membiasakan diri dari sekarang. Bahkan dulu untuk sekedar memegang sendok untuk makan pun kita harus membiasakan diri dalam waktu yang cukup lama, bukan? Bayangkan kalau kita sudah bisa membiasakan hal tersebut, dan menularkannya kepada keluarga dan teman-teman kita, kemudian mereka juga menularkannya kepada teman- teman mereka, lalu teman- teman mereka menularkannya juga kepada keluarga dan teman- teman mereka, dan seterusnya, berapa banyak orang yang sudah membantu mengurangi ‘polusi bumi’ ini?
Mulailah segala sesuatu dari hal yang terkecil, maka sesuatu yang besar akan terjadi kemudian.

Jumat, 01 Juli 2011

kunjungan ke PPLH Seloliman

 jBaru-baru ini kampus saya ngadain kunjungan ke Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) yang terletak di Dusun Seloliman, Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. PPLH tersebut merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat  (LSM) yang bergerak dalam bidang pendidikan lingkungan hidup. Tempat ini menyajikan suasana alam pedesaan yang segar dan pemandangan yang asri, jadi selain jalan-jalan, bisa sekalian foto-foto juga.


Beberapa fasilitas alam yang disediakan disana antara lain yaitu kebun buah, sayur serta obat-obatan dan hutan buatan. Salah satu yang menarik adalah tanaman di bawah ini :


Selain itu, PPLH ini juga menyediakan track ekowisata bagi pengunjung. Lintasannya antara lain melewati daerah hutan, sungai, persawahan dan perumahan warga asli dusun Seloliman.


Untuk fasilitas di dalam area PPLH sendiri disediakan perpustakaan, ruang seminar, restoran dengan menu masakan yang tidak menggunakan bahan kimia tambahan (pemanis, perasa, pengawet dan pewarna buatan), dan juga penginapan dengan kapasitas perorangan atau asrama untuk kelompok besar. 
Ini foto di depan guest house yang bergaya Bali di dekat pintu masuk PPLH. Aslinya bagus banget loh.


A glass of pure water on PPLH's restaurant. "Berani bayar deh kalau airnya sampai keruh", kata mbaknya.










Dan ternyata, PPLH ini juga mempunyai Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) untuk mensupply ketersediaan listrik kawasan di kawasan PPLH dan beberapa rumah di dusun Seloliman.





lebih lengkap tentang PPLH kunjungi websitenya